Sebelum bernama
Persib Bandung, di
Kota Bandung berdiri
Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun
1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah
Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita
Dewi Sartika, yakni
R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah
Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan
lapangan Tegallega di depan
tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar
kota seperti
Yogyakarta dan
Jatinegara,
Jakarta.
Pada tanggal
19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang
Persebaya), MIVB (
PPSM Magelang), MVB (
PSM Madiun), VVB (
Persis Solo), dan PSM (
PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran
PSSI
dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB
dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian
kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil
masuk final
kompetisi perserikatan pada tahun
1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga
diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia
Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal
14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih
Anwar St. Pamoentjak
sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah
SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA,
dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun
1934,
dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali
masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun
1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang
Belanda
yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini
kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan
"kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah
pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu
sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan
Ciroyom.
Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang
digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu
dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota,
UNI dan
SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola
satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang
tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung
dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu
strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka
pergunakan untuk bertanding yakni
Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini
Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika
Indonesia jatuh ke tangan
Jepang,
kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan
organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan
juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa
vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan
baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan
Jepang.
Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa
Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana
perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali
menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib
untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota,
sehingga ada Persib di
Tasikmalaya, Persib di
Sumedang, dan Persib di
Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit
Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan
Yogyakarta.
Baru tahun
1948
Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian
membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup
lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia
Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja
dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa
pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara
lain,
dokter Musa, Munadi,
H. Alexa,
Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada
satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat
nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade
50-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode
1953-
1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu
R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di
Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya
R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di
Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi
perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib
tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun
1961,
1986,
1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun
1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun
1950,
1959,
1966,
1983, dan
1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi
Robby Darwis
pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan
keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun
1995.
Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus
dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan
menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil
menjadi juara setelah mengalahkan
Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh
Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya
terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun
2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di
Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang
sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun
senior. Sederet nama seperti
Risnandar Soendoro,
Nandar Iskandar,
Adeng Hudaya,
Heri Kiswanto,
Ajat Sudrajat,
Yusuf Bachtiar,
Dadang Kurnia,
Robby Darwis,
Budiman,
Nur'alim,
Yaris Riyadi hingga generasi
Erik Setiawan dan
Eka Ramdani
merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib. Sampai saat ini
Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling
dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.
Sejarah Drag Bike
Sejarah
Motor 50 cc team Suzuki tahun 1967.
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh
Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada
saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa balapan di
tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan
kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu
adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater,
serta 350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan
sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada
akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil.
Di tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan
mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4
tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini
gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor
500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc akhirnya dihapuskan.
Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun 1984, tetapi
kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini
akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari
kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan
kelas 500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah
secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai
2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas
mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu
bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan
akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama
kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin
khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi
800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah
silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat
tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas
GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi
mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc
secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15
negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa
digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar
latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu
dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha
membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka.
Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar
hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start)
terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti
oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit
dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa
masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan
diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid
tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika
hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
Organisasi dalam MotoGP
Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari organisasi-organisasi yang
terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang tergabung dalam komisi
Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan
tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang
berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi
juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama
soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah
badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis
pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari
sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata
lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab
terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi
ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini
berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang
tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat
memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara
lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam
MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti
kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan
pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan
peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain
yang tergabung di komisi Grand Prix.
Karier Pembalap
Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang turun di balap
motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan direkrut
oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125cc, kelas 250cc,
kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125cc sendiri
berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau
nasional di negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di
Jepang, ataupun kejuaraan Eropa.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa
kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco
Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA
Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane
Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards,
Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya
para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari
berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor
bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2
tak 500cc yang boleh digunakan.
Spesifikasi
Mesin YZR-M1 empat silinder (empat tak) di acara Tokyo Motor Show 2009.
Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan dibentuk oleh FIM
sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk dan
mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan
perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP di tahun 2002,
motor bermesin 2 tak 500cc dan 4 tak 990cc dibolehkan untuk digunakan
dalam balapan. Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang
mengungguli motor bermesin 2 tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari
persaingan, dan musim-musim balap selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak
yang digunakan.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor
MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari
pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan
keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan
mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor
kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris
Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun
2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9
km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit
Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc
(daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan
jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat
menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya
perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai
regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang
seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan
kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam
kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor
sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder
dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc
dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan
jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi
dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini
disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang
dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun
2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima
silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati,
Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya
untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan
kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin
MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan
seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor
tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi
umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk
telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon,
dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di
tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan
250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih
sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam
kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP
dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga
mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak
dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar
lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari
950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik
kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor
MotoGP.
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://ow.ly/KNICZ
Drag Bike
Sejarah
Motor 50 cc team Suzuki tahun 1967.
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh
Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada
saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa balapan di
tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan
kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu
adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater,
serta 350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan
sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada
akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil.
Di tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan
mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4
tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini
gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor
500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc akhirnya dihapuskan.
Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun 1984, tetapi
kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini
akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari
kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan
kelas 500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah
secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai
2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas
mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu
bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan
akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama
kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin
khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi
800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah
silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat
tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas
GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi
mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc
secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15
negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa
digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar
latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu
dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha
membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka.
Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar
hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start)
terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti
oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit
dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa
masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan
diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid
tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika
hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
Organisasi dalam MotoGP
Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari organisasi-organisasi yang
terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang tergabung dalam komisi
Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan
tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang
berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi
juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama
soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah
badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis
pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari
sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata
lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab
terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi
ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini
berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang
tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat
memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara
lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam
MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti
kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan
pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan
peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain
yang tergabung di komisi Grand Prix.
Karier Pembalap
Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang turun di balap
motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan direkrut
oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125cc, kelas 250cc,
kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125cc sendiri
berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau
nasional di negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di
Jepang, ataupun kejuaraan Eropa.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa
kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco
Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA
Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane
Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards,
Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya
para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari
berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor
bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2
tak 500cc yang boleh digunakan.
Spesifikasi
Mesin YZR-M1 empat silinder (empat tak) di acara Tokyo Motor Show 2009.
Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan dibentuk oleh FIM
sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk dan
mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan
perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP di tahun 2002,
motor bermesin 2 tak 500cc dan 4 tak 990cc dibolehkan untuk digunakan
dalam balapan. Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang
mengungguli motor bermesin 2 tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari
persaingan, dan musim-musim balap selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak
yang digunakan.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor
MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari
pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan
keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan
mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor
kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris
Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun
2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9
km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit
Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc
(daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan
jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat
menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya
perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai
regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang
seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan
kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam
kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor
sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder
dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc
dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan
jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi
dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini
disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang
dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun
2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima
silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati,
Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya
untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan
kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin
MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan
seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor
tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi
umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk
telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon,
dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di
tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan
250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih
sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam
kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP
dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga
mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak
dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar
lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari
950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik
kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor
MotoGP.
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://ow.ly/KNICZ
Sejarah Drag Bike
Sejarah
Motor 50 cc team Suzuki tahun 1967.
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh
Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada
saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa balapan di
tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan
kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu
adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater,
serta 350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan
sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada
akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil.
Di tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan
mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4
tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini
gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor
500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc akhirnya dihapuskan.
Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun 1984, tetapi
kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini
akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari
kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan
kelas 500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah
secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai
2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas
mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu
bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan
akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama
kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin
khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi
800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah
silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat
tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas
GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi
mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc
secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15
negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa
digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar
latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu
dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha
membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka.
Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar
hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start)
terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti
oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit
dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa
masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan
diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid
tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika
hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
Organisasi dalam MotoGP
Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari organisasi-organisasi yang
terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang tergabung dalam komisi
Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan
tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang
berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi
juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama
soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah
badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis
pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari
sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata
lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab
terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi
ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini
berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang
tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat
memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara
lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam
MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti
kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan
pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan
peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain
yang tergabung di komisi Grand Prix.
Karier Pembalap
Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang turun di balap
motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan direkrut
oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125cc, kelas 250cc,
kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125cc sendiri
berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau
nasional di negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di
Jepang, ataupun kejuaraan Eropa.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa
kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco
Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA
Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane
Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards,
Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya
para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari
berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor
bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2
tak 500cc yang boleh digunakan.
Spesifikasi
Mesin YZR-M1 empat silinder (empat tak) di acara Tokyo Motor Show 2009.
Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan dibentuk oleh FIM
sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk dan
mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan
perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP di tahun 2002,
motor bermesin 2 tak 500cc dan 4 tak 990cc dibolehkan untuk digunakan
dalam balapan. Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang
mengungguli motor bermesin 2 tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari
persaingan, dan musim-musim balap selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak
yang digunakan.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor
MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari
pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan
keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan
mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor
kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris
Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun
2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9
km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit
Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc
(daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan
jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat
menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya
perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai
regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang
seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan
kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam
kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor
sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder
dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc
dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan
jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi
dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini
disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang
dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun
2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima
silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati,
Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya
untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan
kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin
MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan
seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor
tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi
umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk
telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon,
dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di
tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan
250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih
sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam
kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP
dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga
mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak
dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar
lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari
950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik
kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor
MotoGP.
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://ow.ly/KNICZ
Sejarah Drag Bike
Sejarah
Motor 50 cc team Suzuki tahun 1967.
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kali diselenggarakan oleh
Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), pada tahun 1949. Pada
saat itu secara tradisional telah diselenggarakan beberapa balapan di
tiap even untuk berbagai kelas motor, berdasarkan kapasitas mesin, dan
kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada saat itu
adalah 50cc, 125cc, 250cc, 350cc, dan 500cc untuk motor single seater,
serta 350cc dan 500cc untuk motor sidecars. Memasuki tahun 1950-an dan
sepanjang 1960-an, motor bermesin 4 tak mendominasi seluruh kelas. Pada
akhir 1960-an, motor bermesin 2 tak mulai menguasai kelas-kelas kecil.
Di tahun 1970-an motor bermesin 2 tak benar-benar menyingkirkan
mesin-mesin 4 tak. Pada tahun 1979, Honda berusaha mengembalikan mesin 4
tak di kelas puncak dengan menurunkan motor NR500, namun proyek ini
gagal, dan di tahun 1983 Honda bahkan meraih kemenangan dengan motor
500cc 2 tak miliknya. Pada tahun 1983, kelas 350cc akhirnya dihapuskan.
Kelas 50cc kemudian digantikan oleh kelas 80cc di tahun 1984, tetapi
kelas yang sering didominasi oleh pembalap dari Spanyol dan Italia ini
akhirnya ditiadakan pada tahun 1990. Kelas sidecars juga ditiadakan dari
kejuaraan dunia di tahun 1990-an, menyisakan kelas 125cc, 250cc, dan
kelas 500cc.
GP 500, kelas yang menjadi puncak balap motor Grand Prix, telah berubah
secara dramatis pada tahun 2002. Dari pertengahan tahun 1970-an sampai
2001 kelas puncak dari balap GP ini dibatasi 4 silinder dan kapasitas
mesin 500cc, baik jenis mesin 4 tak ataupun 2 tak. Akibatnya, yang mampu
bertahan adalah mesin 2 tak, yang notabene menghasilkan tenaga dan
akselerasi yang lebih besar. Pada tahun 2002 sampai 2006 untuk pertama
kalinya pabrikan diizinkan untuk memperbesar kapasitas total mesin
khusus untuk mesin 4 tak menjadi maksimum 990cc, dan berubah menjadi
800cc di musim 2007. Pabrikan juga diberi kebebasan untuk memilih jumlah
silinder yang digunakan antara tiga sampai enam dengan batas berat
tertentu. Dengan dibolehkannya motor 4 tak ber-cc besar tersebut, kelas
GP 500 diubah namanya menjadi MotoGP. Setelah tahun 2003 tidak ada lagi
mesin 2 tak yang turun di kelas MotoGP. Untuk kelas 125cc dan 250cc
secara khusus masih menggunakan mesin 2 tak.
Balap untuk kelas MotoGP saat ini diselenggarakan sebanyak 17 seri di 15
negara yang berbeda (Spanyol menggelar 3 seri balapan). Balapan biasa
digelar setiap akhir pekan dengan beberapa tahap. Hari Jum’at digelar
latihan bebas dan latihan resmi pertama, kemudian hari Sabtu
dilaksanakan latihan resmi kedua dan QTT, di mana para pembalap berusaha
membuat catatan waktu terbaik untuk menentukan posisi start mereka.
Balapan sendiri digelar pada hari Minggu, meskipun ada seri yang digelar
hari Sabtu yaitu di Belanda dan Qatar. Grid (baris posisi start)
terdiri dari 3 pembalap perbaris dan biasanya setiap seri balap diikuti
oleh sekitar 20 pembalap. Balapan dilaksanakan selama sekitar 45 menit
dan pembalap berlomba sepanjang jumlah putaran yang ditentukan, tanpa
masuk pit untuk mengganti ban atau mengisi bahan bakar. Balapan akan
diulang jika terjadi kecelakaan fatal di awal balapan. Susunan grid
tidak berubah sesuai hasil kualifikasi. Pembalap boleh masuk pit jika
hanya untuk mengganti motor karena hujan saat balapan.
Organisasi dalam MotoGP
Kesuksesan Balap MotoGP tidak terlepas dari organisasi-organisasi yang
terlibat di dalamnya Beberapa organisasi yang tergabung dalam komisi
Grand Prix antara lain FIM, Dorna, IRTA, dan MSMA.
FIM (Federation Internationale de Motocyclisme) merupakan badan
tertinggi di dunia yang mengurusi hal-hal seputar sepeda motor. FIM yang
berdiri pada tahun 1904 ini tidak hanya mengurusi balap motor, tetapi
juga menjadi pengawas motor-motor produksi yang dijual masal, terutama
soal keamanan dan kelayakan. Dalam kegiatan balap motor, FIM adalah
badan yang mengurusi dan bertanggung jawab mengenai regulasi dan teknis
pelaksanaan balapan, juga mengenai status, taraf, dan kriteria dari
sebuah kejuaraan balap motor.
Dorna adalah organisasi penyelenggara balapan MotoGP, atau dengan kata
lain Dorna adalah promotor kejuaraan MotoGP. Dorna bertanggung jawab
terhadap kualitas event dan juga mengurusi sponsor event.
IRTA (International Road racing Team Association), anggota organisasi
ini terdiri dari tim-tim yang mengikuti balapan MotoGP. Organisasi ini
berfungsi untuk menyalurkan aspirasi tim dan para pembalap yang
tergabung di dalamnya. Dengan organisasi inilah pembalap dapat
memberikan masukan dan menentukan hak-hak dan kepentingannya, antara
lain nilai kontrak, keamanan dan kelayakan sirkuit.
MSMA (Motor Sport Manufacturer Association) merupakan organisasi dalam
MotoGP yang terdiri dari pabrikan-pabrikan motor yang mengikuti
kejuaraan MotoGP, seperti Honda, Yamaha, Ducati, Suzuki, Kawasaki, dan
pabrikan lainnya. Fungsi dari organisasi ini antara lain memutuskan
peraturan teknis mengenai regulasi motor bersama dengan organisasi lain
yang tergabung di komisi Grand Prix.
Karier Pembalap
Terdapat penjenjangan karier bagi para pembalap yang turun di balap
motor dunia, apabila seorang pembalap cukup berprestasi ia akan direkrut
oleh tim yang ada dikelas berikutnya dari kelas 125cc, kelas 250cc,
kemudian kelas puncak MotoGP. Pembalap yang turun di kelas 125cc sendiri
berasal dari pembalap yang berprestasi di kejuaraan regional atau
nasional di negaranya masing-masing, seperti All Japan road racing di
Jepang, ataupun kejuaraan Eropa.
Para pembalap yang turun di kelas puncak MotoGp berasal dari beberapa
kejuaraan. Selain berasal dari kelas 250cc seperti Valentino Rossi,Marco
Melandri, Daniel Pedrosa, ada pula pembalap yang berasal dari AMA
Superbike seperti Nicky Hayden, dari British Superbike seperti Shane
Byrne, juga dari World Superbike seperti Noriyuki Haga, Colin Edwards,
Troy Bayliss, Neil Hodgson, Ruben Xaus dan Chris Vermeulen. Banyaknya
para pembalap yang berasal dari superbike ini tidak terlepas dari
berubahnya kelas puncak GP motor yang membolehkan penggunaan motor
bermesin 4 tak 990cc pada tahun 2002, setelah sebelumnya hanya mesin 2
tak 500cc yang boleh digunakan.
Spesifikasi
Mesin YZR-M1 empat silinder (empat tak) di acara Tokyo Motor Show 2009.
Setiap peraturan mengenai tiap-tiap kelas balapan dibentuk oleh FIM
sebagai organisasi yang berwenang melakukannya. FIM membentuk dan
mengeluarkan peraturan-peraturan baru yang dipandang sesuai dengan
perkembangan balapan. Pada permulaan era baru MotoGP di tahun 2002,
motor bermesin 2 tak 500cc dan 4 tak 990cc dibolehkan untuk digunakan
dalam balapan. Kedahsyatan tenaga dari motor bermesin 4 tak yang
mengungguli motor bermesin 2 tak menyingkirkan seluruh mesin 2 tak dari
persaingan, dan musim-musim balap selanjutnya tidak ada lagi motor 2 tak
yang digunakan.
Pada tahun 2007, FIM akan memberlakukan peraturan baru bahwa motor-motor
MotoGP akan dibatasi menjadi 4 tak 800cc. Alasan yang dikemukakan dari
pengurangan kapasitas silinder mesin ini adalah untuk meningkatkan
keamanan pembalap, mengingat tenaga dan kecepatan puncak yang dihasilkan
mesin-mesin MotoGP telah meningkat secara drastis sejak 2002. Rekor
kecepatan MotoGP saat ini adalah 347,4 km/jam yang dicetak oleh Loris
Capirossi dengan motor Ducati di sirkuit Catalunya, Barcelona pada tahun
2004. Sebagai perbandingan rekor kecepatan F1 saat ini adalah 369,9
km/jam yang dicetak oleh Antonio Pizonia dengan mobil BMW, di sirkuit
Monza di tahun 2004.
Keputusan pilihan untuk membatasi kapasitas mesin menjadi 800cc
(daripada dengan metode pembatasan tenaga lain, seperti pengurangan
jumlah gir transmisi yang diizinkan) menurut para pengamat MotoGP sangat
menguntungkan Honda. Honda menggunakan mesin lima silinder, dan hanya
perlu mengurangi satu silinder untuk membenahi mesin mereka agar sesuai
regulasi yang baru, sementara pabrikan lainnya harus mendesain ulang
seluruh mesin mereka. Pembatasan menjadi 800cc juga menimbulkan
kontroversi bahwa sepertinya saat ini motor yang digunakan dalam
kejuaraan Superbike 1000cc menjadi yang tercepat dalam balapan motor
sirkuit di seluruh dunia.
Mesin yang digunakan dalam kelas 125cc dibatasi sebanyak satu silinder
dan dengan berat minimal 80 kilogram, sementara untuk kelas 250cc
dibatasi sebanyak dua silinder dengan berat minimal 100 kilogram.
Motor-motor untuk kelas MotoGP dibolehkan menggunakan mesin dengan
jumlah silinder antara tiga sampai enam silinder, dan terdapat variasi
dalam pembatasan berat tergantung jumlah silinder yang digunakan. Ini
disebabkan sebuah mesin dengan silinder yang lebih banyak, tenaga yang
dihasilkan juga lebih besar, dan batasan berat meningkat. Pada tahun
2006 mesin-mesin yang digunakan di MotoGP adalah mesin empat dan lima
silinder. Honda menggunakan lima silinder, sementara Yamaha, Ducati,
Kawasaki, dan Suzuki menggunakan empat silinder.
Motor-motor yang digunakan dalam Grandprix motor dibuat tidak hanya
untuk balapan saja, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan dan
kemajuan teknologi antar pabrikan. Sebagai hasilnya seluruh mesin-mesin
MotoGP dibuat dengan menggunakan material yang sangat mahal dan ringan
seperti titanium, dan carbon-fiber-reinforced plastic. Motor-motor
tersebut juga menggunakan teknologi yang tidak tersedia untuk konsumsi
umum, misalnya adalah perangkat elektronik yang canggih termasuk
telemetri, engine management systems, kontrol traksi, rem cakram karbon,
dan teknologi mesin modern yang diadopsi dari teknologi mesin mobil F1.
Jika motor-motor yang dipakai di kelas MotoGP hanya dilombakan di
tingkat kejuaraan dunia, motor-motor yang digunakan di kelas 125cc dan
250cc relatif lebih terjangkau. Harga sebuah motor 125cc kurang lebih
sama dengan sebuah mobil. Motor-motor ini sering digunakan dalam
kejuaraan balap motor nasional di seluruh dunia.
Satu dari beberapa tantangan utama yang dihadapi para pembalap MotoGP
dan Insinyur motor MotoGP adalah bagaimana untuk menyalurkan tenaga
mesin yang luar biasa – lebih dari 240 dk (179 kW), melalui titik kontak
dua buah ban dan permukaan aspal sirkuit dengan lebar hanya sekitar
lengan manusia. Sebagai perbandingan mobil F1 menghasilkan lebih dari
950 dk (700 kW) tetapi dengan empat buah ban, sehingga memiliki titik
kontak permukaan dengan aspal sepuluh kali lebih lebar dari motor
MotoGP.
Copy the BEST Traders and Make Money :
http://ow.ly/KNICZ